Kamis, 03 November 2011

Hujan


Hujan

Seperti inilah kehidupan
Seperti roda yang berputar
Ada kalanya kita berada diatas
Ada kalanya pula kita berada dibawah
Ada saat kita bertemu dan menyatu
Ada pula saat dimana kita harus berpisah
Semuanya telah menjadi misteri dalam hidup
***
Saat takdir telah berkehendak, kita tak akan mampu berbuat apa-apa untuk sedikit melenceng dari garis yang telah ditentukannya. Pertemuan, persahabatan, kasih sayang, dan perpisahan semua mengalir seperti air, sulit untuk dihentikan.
*
Hujan yang telah mempertemukan kita
Hujan pula yang telah menyatukan kita
“Hujan lagi, hujan lagi. Huuuuh, sebel. Aku kan nggak bawa payung.” Kudengar dengan samar suara seorang gadis yang –sepertinya- sedang bergumam sendiri, mengeluhkan cuaca kota wali yang tak menentu akhir-akhir ini. Aku sedang berada dihalte bus ini saat hujan mulai mengguyur bumi. Aku sendiri menyukai hujan, yang rinai-rinainya mampu menyejukkan hati.
“Eh, kamu Fira kan?” Aku mendengar ada yang menyebut namaku. Aku menoleh ke asal suara itu. Mataku mendapati seorang gadis manis berambut sebahu sedang tersenyum dan menghampiriku.
“Aku?” aku menunjuk diriku sendiri, untuk memastikan apakah ada nama Fira lain disini.
“Iya kamu, siapa lagi.” Dia duduk disampingku, aku hanya tersenyum. Aku seperti pernah bertemu gadis ini sebelumnya, tapi dimana? Ia memakai seragam batik dengan corak berwarna hitam yang sama denganku dan bet kelas yang menunjukkan kelas XII IPA 5, kelas yang sama pula denganku, tapi aku yakin aku tak pernah menjupainya saat disekolah. Aku berusaha memutar otakku, mengingat ingat apakah aku pernah bertemu dengannya, tapi usahaku gagal, aku menyerah, otakku sudah tak mampu bekerja lagi hari ini. “kamu Fira kan? Anaknya pak Hendra? Kamu lupa sama aku?” suaranya terdengar lagi, tapi hey bagaimana ia tahu nama ayahku.
“em, hehe. Aku lupa, siapa ya?” aku menoleh padanya, sambil menggaruk-nggaruk kepalaku yang tidak gatal, masih berusaha mengumpulkan ingatanku tentangnya. Tapi hasilnya sama, gagal.
“Emang sih, kita belum pernah kenalan secara resmi, tapi kita pernah ketemu kok, kemarin.” Aku hanya menggelengkan kepalaku. Masih belum ingat. “Ya ampun. Oke, kenalin nama aku Tiara, Ti-A-Ra. Aku tetangga baru kamu yang baru pindah kemarin, anaknya pak Wijaya. Ingat?” ia menjulurkan tangannya. Aku menyambut uluran tangannya dengan senyum, aku ingat.
“Iya, iya, baru inget. Maaf ya, baru kemarin tapi aku udah lupa, hehe.” Aku terkekeh pelan, menyadari kesalahanku hari ini.
“Iya, nggak pa-pa kok, yang penting aku udah lega sekarang, punya temen buat pulang bareng. Aku masih bingung sama kota ini. Tempat yang aku tahu cuma rumah, sekolah, sama halte ini doang. Yang lain? Uuuuh, nggak ngerti.” Ia terus mengoceh, aku yang mendengarkannya hanya tertawa geli. Lucu sekali orang ini. “hah, malah ketawa, tapi nggak pa-pa deh, dari pada diem aja kayak tadi. Oh ya, by the way kita satu sekolah yah? Asyiiik, punya temen.” Dia bertepuk tangan, mirip anak kecil. Aku hanya mengangguk menanggapinya.
“Kamu mau pulang sekarang atau nanti Ra?”
“Hah? Sekarang? Naik apa?” dia bingung, aku geleng-geleng melihat kepolosannya.
“Itu ada angkot.” Aku menunjuk sebuah angkot yang sedang menuju kemari. Tiara menengok. Lalu tersenyum.
“Ayo, aku juga udah bosen disini. Tapi kamu bawa payung nggak?” aku menunjukkan payung yang bisa dilipat yang berada ditanganku itu kepadanya. Dia hanya mengangguk. Kami bergantian masuk kedalam angkot saat angkot berwarna merah itu berhenti didepan kami. Angkot yang kami tumpangi pun menembus derasnya hujan siang ini.
“Kiri pak.” Ucapku saat kami sampai didepan gedung Stadion Pancasila. Tiara menatapku bingung. Tapi aku hanya mengangguk, mengisyaratkannya agar ikut turun. Aku menyerahkan uangku kepada pak sopir. “makasih ya pak.” Pak supir itu hanya mengangguk dan menerima uangku.
“Kok kita turun sini sih Fir? Kan belum nyampe.” Aku hanya menarik tangannya menuju tempat para tukang becak ‘mangkal’. “perumnas Mangunjiwan ya pak.” Kataku pada seorang bapak tukang becak yang sudah cukup tua.
“oh Mbak Fira, ayo mbak. Lha ini siapa mbak?” Bapak tukang becak yang bernama Pak Senin itu melihat ke arah Tiara.
“ini Tiara pak, temen baru aku, satu jurusan kok pak.” Aku tersenyum. Pak Senin hanya membulatkan bibirnya. Dalam perjalanan pulang, aku hanya diam. Menikmati bau basah yang ditinggalkan oleh sang hujan tadi. Pak senin mengantarkan kami sampai tepat didepan rumah. “berapa pak?” aku bertanya, siapa tahu tarif yang harus kubayar naik karena kami berdua. Hanya untuk memastikan.
“biasa mbak.” Aku tersenyum, jarak antara Stadion dan rumah orangtuaku tidaklah terlalu jauh. Aku menyerahkan selembar uang sepuluh ribuan pada Pak Senin. Pak senin menerimanya, lalu merogoh sakunya, sepertinya akan memberikan uang kembalian kepadaku.
“nggak usah pak, kembaliannya buat bapak aja. Kami kan berdua.” Aku tetap tersenyum. Pak Senin membalas senyumku.
“Makasih ya mbak.” Pak Senin membalas senyumku lalu pergi meninggalkan kami berdua.
“Kamu udah kenal baik sama bapak itu? Tadi kamu juga belum jawab pertanyaanku. Jawaab.” Tiara mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak penting.
“iya, aku udah langganan becak pak Senin dari awal masuk SMA, terus nggak ada kendaraan umum yang lewat daerah ini sayang, jadi kita harus naik becak, atau nggak gitu jalan kaki.” Aku mencubit kedua pipi tembem milik Tiara, gemas. Tiara hanya membulatkan bibirnya. “sekarang  aku mau masuk dulu, capek. Bye.” Kulirik, Tiara masih menatapku bingung, tapi kemudian mengangkat kedua bahunya dan meninggalkan halaman rumahku. Aku hanya terkekeh pelan.
Mudah-mudahan ini akan menjadi awal persahabatan kita.
*
Hujan mengajarkanku arti kesetiaan
Hujan pula yang mengajarkanku arti pengorbanan
“Aku lagi jatuh cinta.” Tiara merebahkan tubuhnya dikasurku sambil bergumam pelan, tapi cukup keras untuk ditangkap oleh indra pendengaranku. Aku melepaskan pandanganku dari layar monitor, lalu berbalik menghadap Tiara.
“kamu jatuh cinta? Sama siapa?” aku mengernyitkan dahi, penasaran.
“Alvin.” Dia tersenyum. “Kamu bisa bantuin aku sama dia nggak Fir? Bantuin yah.” Dia mendudukkan tubuhnya, matanya berbinar-binar. Aku masih syok saat tahu siapa lelaki beruntung yang mendapatkan hati Tiara, tapi didetik berikutnya, aku harus kembali menelan kekecewaan ini. Tiara, jatuh cinta pada orang yang salah.
Aku mengangguk tanpa sadar mendengar ucapan Tiara, kusadari wajahku menegang, selalu seperti ini, aku selalu terjebak dalam posisi seperti ini, takdir memang tahu kelemahanku.
“makasih banget ya Fir, aku nggak salah sahabatan sama kamu. Kamu bener-benar sahabat tebaik aku.” Dia menghambur kepelukanku. Aku membalas pelukannya dengan setengah kaget, juga perih.
“iya, sama-sama Ra. Bukannya ini gunanya sahabat?” dia mengangguk. Maafkan aku Ra, jika suatu saat kau akan terluka karena ini. “oh ya, kamu jadi nginep disini kan?” aku melepaskan pelukannya dan mencoba mengalihkan perhatian.
“jadi dong, males aku dirumah sendiri.” Aku hanya mengacungkan ibu jariku. Dia kembali duduk di ranjangku dan mengambil majalan fashion edisi terbaru yang sudah ia bawa dari rumah. Sedangkan aku kembali meneruskan pekerjaanku, walaupun dengan semangat yang tak seperti tadi. Aku masih terus memikirkan ucapan Tiara. Haruskah aku melakukannya?
Pikiranku campur aduk. Diluar sana petir dan guntur masih terus bekejar-kejaran. Terpaksa harus kuakhiri aktifitasku saat ini. Aku melirik ke tempat Tiara, dia sudah tertidur lelap.
Aku menyayangimu Ra, aku akan lakuin apapun buat kamu. Sekalipun harus kukorbankan perasaanku.
*
“tapi kamu sayang sama aku kan Vin?”
“aku sayang sama kamu, tapi nggak harus gini kan?” ia memalingkan muka.
“harusnya kalau kamu sayang sama aku, kamu harus ngerti perasaan aku dong Vin.”
“kamu juga harus ngertiin perasaan aku Fir!” dia membentakku, aku menangis. Air mataku sudah berlomba-lomba ingin keluar. “maafin aku Fir. Baik, aku bakal nurutin kemauan kamu. Tapi itu hanya karena aku sayang sama kamu. Oke.” Dia memelukku, mengusap rambutku. Mungkin ‘tuk yang terakhir kalinya. Aku hanya mengangguk.
*
“Firaaaaaaaaaaaa, kamu kok ninggalin aku sih.” Suara cempreng Tiara membuat kami kaget. Dia memasuki kelas dengan wajah yang cemberut, tapi begitu melihatku dia tersenyum-senyum sendiri. Orang yang tak mengenalnya mungkin akan menyebut Tiara sebagai orang gila. Aku tertawa dalam hati.
“aku bahagia, bahagia, bahaaaagia.” Dia melemparkan tasnya keatas mejanya dan duduk disebelahku. Kami memang satu kelas. Aku menatapnya heran, tadi marah-marah sekarang malah bilang lagi bahagia. Aneh.
“Bahagia kenapa sih?” aku pun jadi penasaran. Bukankah setiap hari ia selalu terlihat bahagia?
“Alvin nembak aku.” Deg. Jantungku seperti berhenti berdetak. Ia hanya berbisik, tapi terdengar begitu keras ditelingaku. Aliran darahku mengalir begitu cepat. Jadi sudah.
“Kamu bilang apa Fir, ‘jadi sudah?’, jadi kamu yang nggrencanain ini semua? Makasih ya Fir, makasih banget.” Aku mengangguk perlahan. Jadi aku menyebutkan kata tadi? Tiara memelukku, aku balas memeluknya dengan setengah sadar. Pikiranku melayang entah kemana.
“eum, longlast ya Ra.” Aku tersenyum kecut.
“iya.” Dia mengangguk. “oh ya Fir, PR Fisika gimana? Aku bingung banget nih.” Tiara mengeluarkan buku PR Fisikanya. “yang ini nih, gimana caranya, pakai rumus yang mana?” aku melihat soal yang ditunjuk Tiara.
“ya ampun Ra, ini nih pelajaran SMP. Masak mau ujian tapi belum bisa soal kayak gini.” Tiara hanya tertawa. “gini nih, yang ini dikali ini dulu ...” aku menjelaskannya untuk Tiara, dan Tiara mendengarkanku dengan baik.
*
Mungkin sekarang adalah saat dimana kesabaranku benar-benar teruji
Dan lagi-lagi hujan yang telah mengajarkanku arti kesabaran
Ada banyak hal yang tak dapat diungkapkan hanya dengan kata-kata. Seperti halnya hujan. Ada kalanya hujan membawa ketenangan, tapi ada kalanya pula hujan membawa ketakutan. Dan pagi ini hujan masih menemani kami di detik-detik menegangkan menanti pengumuman kelulusan. Sama seperti yang lain, aku juga tegang.
Kami –siswa SMA N 1 Demak- sedang berada diluar aula saat ini. Sedangkan didalam aula sendiri, kepala sekolah kami sedang berdiri diatas podium sambil terus berbicara. Aku tak habis fikir, apa saja yang disampaikan si kumis tebal itu. Apa susahnya langsung mengatakan ‘anak Bapak dan Ibu lulus 100%’. Aku hanya menghela nafas. Aku melihat teman-teman juga sedang mempersiapkan pylox dan beberapa spidol. Tentu saja, untuk aksi khas saat pengumuman kelulusan, coret-coret. Tapi sepertinya, cuaca sangat tidak mendukung hari ini, mungkin saja mereka akan membatalkan aksinya, ya, mungkin saja.
“Dan akhirnya, inilah saat yang paling di tunggu-tunggu ...” ku dengar lamat-lamat suara kepala sekolah. “anak Bapak dan Ibu ...” jantungku berdegup kencang. Aku melirik sang ketua kelas, Sivia, yang sedang bergetar hebat. Aku memegang lengannya, sedikit menenangkannya. Saat dia menoleh, aku mengangguk, dia balas tersenyum. Aku tidak tahu dimana Tiara sekarang, mungkin sedang bersama Alvin.
“100% LULUS ...”
“horeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee.” Aku ikut melompat kegirangan bersama kawan-kawan lain. Lalu ikut berlari menembus hujan. Ternyata dugaanku salah, mereka tetap melaksanakan aksinya, coret-menyoret. Dan sekarang aku sedang diserbu para ‘pengagum’ku yang ingin menandatangai bajuku, sedangkan aku hanya bisa pasrah. Tapi, kemana Alvin dan Tiara? Aku tak melihat mereka sejak tadi.
“Fir, sekarang temen kamu yang Tiara itu makin lengket aja sama Alvin ya.” Ucap Sivia yang sedang menandatangani bajuku. Aku menatapnya heran. “tuh disana.” Dengan dagunya ia menunjukkan dimana Alvin dan Tiara sekarang. Aku lihat mereka sedang bergandengan didekat gerbang sekolah sambil berbicara dan menandatangani seragam kawan-kawan lain, tak jauh dari tempatku berdiri. Sepertinya Alvin sudah bisa mencintai Tiara. Tiara melambaikan tangan, lalu mengajak Alvin menghampiriku, wajahnya sedikit pucat.
“Fir, makasih banget ya kamu udah bantuin aku selama ini, padahal aku masuk jurusan IPA dan nggak yakin bisa lulus. Berkat kamu aku lulus Fir, makasih banget.” Dia memelukku, tahukan kalian, aku sedang menangis saat ini, air mataku mengalir, tapi hujan menyembunyikannya dengan baik.
Aku mengangguk dan membelai rambut Tiara, kulihat Alvin membuang muka, dia marah padaku. “Oh ya Fir, Alvin dapet juara umum lho, keren nggak?” aku hanya mengangguk menanggapi ucapan Tiara, Alvin mantan ketua OSIS dan juara umum di SMA ini, dan itulah yang membuat aku juga jatuh cinta padanya. Tapi, atas nama persahabatan aku akan mulai melupakan dia, membiarkan Tiara meraih cintanya. Karena dia sahabatku dan aku menyayanginya. Dan mungkin memang harus beginilah persahabatan. Saling berkorban, saling membantu.
Kurasakan sesuatu dalam sakuku bergetar. Ada SMS. Orang tuaku memintaku untuk pulang sekarang. Mungkin aku bisa memanfaatkan ini agar menjauh dari Alvin, sebelum dia menyadari air mataku yang keluar. Aku melihat Sivia tertawa bersama Alvin sementara aku membuka SMS. Aku berusaha melawan nuraniku yang terus bergejolak. Aku harus tetap menyembunyikan rasaku.
“Ayah nyuruh pulang Ra, aku pulang duluan ya.” Tiara mengangguk dan tersenyum. “Kamu bisa pulang sendiri kan?”
“tenang aja, ada Alvin kok. Oh ya, nanti malem aku jemput, aku traktir kamu di cafe biasa ya.” Dia memang berjanji akan mentraktirku jika lulus nanti.
“oke, aku duluan ya Siv, Vin.” Aku melambaikan tanganku, mereka mengangguk. Aku berlari bersama derasnya hujan. Air mataku semakin keluar, perih yang kurasakan saat ini, pandanganku mengabur.
Braaak
“Firaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Itulah suara terakhir yang kudengar, suara Tiara. Kurasakan tubuhku melayang, sakit. Air mataku masih menetes. Lalu semuanya menjadi gelap.
*
Tiit tiiit tiiiiiit
Perlahan kubuka mataku, aku sepertinya berada disebuah ruangan putih yang tercium bau obat-obatan yang khas. Rasa sakit yang melanda tubuhku kuabaikan, aku harus menyampaikan asaku ini kepada mereka. Aku mencoba untuk bangun, tapi kurasakan sakit yang amat sangat menyerang kepalaku.
“kamu udah sadar Fir, dokteeer, dokteer. Kamu tiduran aja dulu Fir.” Kudengar suara Tiara menggema. Aku meraih tangannya dan menggelengkan kepala perlahan. Mengisyaratkan pada Tiara agar tetap diam. Dia tersenyum lega meski jelas terlihat kekhawatiran diwajahnya yang manis itu.
“Nggak usah Ra, aku cuma mau mampir sebentar sebelum meneruskan perjalananku kesurga.” Kulihat Tiara mencoba menghapus air matanya yang terus keluar, ia masih terus terisak.
“kamu nggak boleh ngomong gitu Fir, kamu harus bertahan. Demi aku, demi orang tua kamu, dan demi temen-temen kita yang sekarang lagi nungguin kamu diluar.” Aku menggeleng lemah. Disini ada Tiara yang sedang menggenggam tangaku, Sivia yang masih terisak, dan Alvin yang hanya diam. Mereka masih menggunakan seragam SMA yang penuh dengan coret-coretan akibat aksi yang –kurasa terpaksa- terhenti karena kejadian yang menimpaku.
“Aku udah nggak kuat Ra. Aku cuma mau bilang, kita sahabat kan Ra? Buat selamanya.” Aku masih menggenggam tangannya.
Dia mengangguk. “tentu Fir, kita sahabat selamanya. Kamu harus kuat Fir, harus kuat.” Aku mengabaikannya, lalu beralih pada Alvin.
“Vin kamu mau jagain Tiara buat aku kan? Kamu harus mau.” Kulihat air matanya menetes. Aku meraih tangannya dan menyatukan dengan tangan Tiara. “Vin, aku titip Tiara ya, tolong jagain dia, kayak kamu jagain aku selama ini. makasih buat dua tahun terindah ini Vin.” Aku tersenyum padanya, senyum yang kurasakan akan menjadi senyum terakhirku. Dia menggeleng pelan. Aku mengerti. Aku beralih pada Tiara, dia menyernyitkan dahi, sepertinya masih tak mengerti dengan ucapanku barusan. “Ra, aku titip mama ya, aku tahu mama udah ngganggep kamu kayak anak sendiri.” Tiara hanya mengangguk, air matanya masih setia untuk keluar.
“Kamu harus kuat Fir, mama kamu lagi perjalanan kesini.” Sivia mulai angkat bicara. Aku menggeleng.
“Aku udah nggak kuat Siv, sakit banget rasanya.” Sivia makin terisak, begitupula dengan Tiara. “Maafin aku, aku harus pergi sekarang. Jangan pernah lupain aku ya, aku akan selalu ada dihati kalian. Maafin aku.” Aku menutup mataku.
“Aku masih sayang sama kamu Fir, dan bakal tetap sayang sama kamu.” Suara Alvin menggelitik telingaku, ingin aku memeluknya untuk yang terakhir. Tapi malaikat Izrail sedang melaksanakan tugasnya saat ini. Aku menghela nafas lalu membaca shalawat untuk yang terakhir kalinya. Lalu semuanya hilang.
*
Hujan yang telah mempertemukan kita
Hujan pula yang telah menyatukan kita
Hujan mengajarkanku arti kesetiaan
Hujan pula yang mengajarkanku arti pengorbanan
Mungkin sekarang adalah saat dimana kesabaranku benar-benar teruji
Dan lagi-lagi hujan yang telah mengajarkanku arti kesabaran
Hujan yang mempertemukan kita
Hujan pula yang memisahkan kita
Aku mencintaimu kawan, seperti aku mencintai hujan.
***
Mungkin memang harus beginilah persahabatan, ada saat kita tertawa bersama, ada saat dimana kita harus menangis bersama. Ada saat kita harus berkorban, ada kalanya pula kita harus sedikit egois. Banyak hal yang kulalui bersama Tiara selama hampir satu tahun ini. Semua terasa begitu indah. Dan semuanya juga karena hujan.
“udah ah, ini tadi cuma cuplikan kisahku antara Tiara dan Alvin, masih panjang sebenarnya, tapi cuma kenangan itu yang boleh aku bawa kan?” aku sedang bercerita pada sang bidadari. Bidadari cantik itu mengangguk. “Ayo lanjutin perjalanannya.”
Ya, sekarang aku sedang berjalan beriringan dengan sesosok bidadari cantik yang ditugasi oleh Tuhan untuk mengantarku menuju Surga-Nya. Aku tersenyum bahagia. Terima kasih Tuhan, telah memberiku kesempatan untuk merasakan indahnya persahabatan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Little Altair Template by Ipietoon Cute Blog Design