Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Catatan saat bosan di pelajaran BTQ

Rasa suka itu masih ada Hanya mungkin sudah berubah bentuk Sekarang mungkin hanyalah kagum Kekaguman yang amat dalam
Mungkin memang harus seperti itu Aku bukanlah siapa-siapa Tak ada yang istimewa dalam diriku Aku, seseorang yang tak layak kau cinta
Biarkan rasa ini hanya aku yang punya Biar aku dan hatiku yang tahu Tak usah kau peduli Betapa hati ini merindumu

Rizki Firda Amalia @kikyfirda 22 November 2013
Catatan saat bosan di pelajaran BTQ

Letter to The Star

Hay bintang, apa kabar? Aku merasa ada yang berubah darimu. Benarkah apa yang kurasa? Kenapa bintang? Ada apa? Adakah yang salah dengan caraku mengagumimu? Ataukah ada rasa baru yang tumbuh di hatimu? Tolong bintang, jangan berubah. Tetaplah acuh dan tak peduli padaku. Atau minimal jangan kau tunjukkan kepedulianmu bila tak bisa. Sinarmu terlalu terang untukku, bintang. Panasnya membakar hatiku. Aku tak mampu berada di sisimu, Bila dibayangi kenyataan bahwa aku takkan bisa menggapaimu. Tetaplah menjadi bintang yang seperti dulu kupuja. Biarkan aku mengagumimu dari jauh,
Seperti dulu.

RIZKI FIRDA AMALIA @KIKYFIRDA
Rabu, 17 Juli 2013

Supernova - KPBJ #1

Supernova – Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Dongeng –
Kesatria jatuh cinta pada putri bungsu dari Kerajaan Bidadari. Sang Putri naik ke langit. Kesatria kebingungan. Kesatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tak tahu caranya terbang. Kesatria keluar dari kastel untuk belajar terbang pada kupu-kupu. Tetapi, kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon. Kesatria lalu belajar pada burung gereja. Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara. Kesatria kemudian berguru pada burung elang. Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung. Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi. Kesatria sedih, tapi tak putus asa. Kesatria memohon pada angin. Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi, lebih tinggi dari gunung dan awan. Namun, sang Putri masih jauh di awang-awang, dan tak ada angin yang mampu menusuk langit. Kesatria sedih, dan kali ini ia putus asa. Sampai suatu malam, ada Bintang Jatuh yang berhenti

Supernova - Partikel

Supernova Partikel
Engkaulah keheningan yang hadir sebelum segala suara Engkaulah lengan tempatku berpulang
Bunyimu adalah senyapmu Tarianmu adalah gemingmu
Pada bisumu, bermuara segala jawaban Pada hadirmu, keabadian sayup mengecup
Saput batinku meluruh Tatapmu sekilas dan sungguh Bersama engkau, aku hanya kepala tanpa rencana Telanjang tanpa kata-kata
Cuma kini Tinggal sunyi
Dan, waktu perlahan mati

-Dee



Supernova - Petir

Supernova Petir
Engkaulah kilatan cahaya yang menyapulenyapkan segala jejak dan bayang Engkaulah bentangan sinar yang menjembatani jurang antara duka mencinta dan bahagia terdera Engkaulah terang yang kudekap dalam gelap saat bumi bersiap diri untuk selamanya lelap
Andai kau sadar arti pelitamu Andai kau lihat hitamnya sepi di balik punggungmu
Tak akan kau sayatkan luka demi menggarisi jarakmu dengan aku
Karena kita satu
Andai kau tahu

-Dee


Supernova - Akar

Supernova Akar
Engkaulah gulita yang memupuskan segala batasan dan alasan Engkaulah penunjuk jalan menuju palung kekosongan dalam samudra terkelam Engkaulah sayap tanpa tepi yang membentang menuju tempat tak bernama, tapi terasa ada
Ajarkan aku Melebur dalam gelap tanpa harus lenyap Merengkuh rasa takut tanpa perlu surut Bangun dari ilusi, tetapi tak memilih pergi
Tunggu aku Yang hanya selangkah dari bibir jurangmu

(catatan pada suatu malam dingin hingga masuk angin) - dee

Supernova - Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Supernova Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup. Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam cinta tak bermuara. Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksaraku.
Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada pasti. Namun, aku terus disini. Mencintaimu.
Entah kenapa.

(catatan pada suatu pagi buta di atas atap rumah tetangga) - dee

21 Juni 2013 : Bingung

21 Juni 2013 : Bingung
Jum’at, 21 Juni 2013. Dear pembaca setia blog saya (kayaknya cuma Nanda aja), Saya pengen numpang curhat dikit nih, soalnya saya lagi bingung. Jangan tanya sama saya kenapa saya bingung! Saya sendiri juga nggak tahu kenapa saya bingung. Sampai siang, (jam 11.35 waktu saya nulis ini) saya masih dilanda kebingungan yang mendalam. Galau kalau kata anak muda zaman sekarang. Bukan. Bukan karena udah satu tahun sejak saya ketemu Raden Mas Pemilik Hati tapi belum ada perkembangan sama sekali. Bukan, karena saya udah move on dari do’i. Tapi karena kantong saya yang udah kebakaran karena ditinggal penghuninya. Kenapa kantong saya bisa kosong? Mari kita flashback pengeluaran dan pemasukan bulan ini. Pertama, ketika awal bulan. Saya nerima uang sejumlah Rp. 530.000 dari orang tua. Buat bayar SPP Rp. 200.000, buat bayar pramuka Rp. 30.000, dan buat jajan sehari-hari Rp. 300.000. Harusnya oke ya, sebulan uang jajan tiga ratus ribu, ya lumayan lah buat beli nasi ayam sama es teh …

DAT goes to WBL Last Part

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Saya balik lagi nih, masih nerusin cerita DAT goes to WBL yang nggak ada habisnya. Tapi insyaallah, ini bakal jadi part terakhir. Insyaallah. Dari empat part sebelumnya, Cuma part ini aja yang pakai salam yak? Haha. Udah, jangan ketawa. Saya lagi error ini, maklum hari ini hari jum’at, udah kumat lagi penyakitnya. Btw (by the way, bukan baidlowi), sampe mana ya kemarin? *cek halaman sebelumnnya. Oh iya, sampe keluar dari rumah sakit hantu ya. Yuuuuuuuuuuuuuuk mari kita lanjut, cek it out. Setelah menyapa matahari, kami melanjutkan perjalanan panjang yang begitu melelahkan di hari yang cerah itu. Saya sendiri bersyukur, tadi pagi mendung berganti jadi siang yang cerah dan cenderung panas. Tapi saya nggak bersyukur buat Isna yang pengen ke kamar mandi. Awalnya saya nolak ya, soalnya saya nggak suka bikin orang lain nunggu (dalam hal ini Ahya, Mas Firdaus, dan Mbak Mita), rasanya nggak enak ati aja. Dan saya rasa isna juga nggak suka hal lain menunggu. Wajah yang ke…

DAT goes to WBL part 4

Gambar
Masih nerusin cerita yang kemarin. (kok nggak ada habisnya ya? Haha). Udah ah, cuek, lanjut aja. Setelah pisah sama Mbak Yossi dan Isna sudah mengatasi kekeringgannya, Saya, Isna, Mbak Bebeb sama Mas Fiki lanjut jalan lagi. Cuek nglewati wahana ranger sambil terus fokus jalan ke deket Batu Kodok. Batunya beneran mirip kodok loh, mungkin itu salah satu alasan kenapa nama lain dari WBL adalah tanjung kodok. :D Waktu sampai, respon Mas Fiki Cuma “itu yang namanya batu kodok? Kok nggak kayak kodok?” walaupun nggak ada hubungannya sama saya, tapi saya ngerasa jleb banget. U,u Setelah nyempetin buat foto sebentar, mbak Bebeb (yang katanya Nanda namanya itu Khusnul Khotimah) ngajakin pergi. Ke istana boneka atau kemanalah, yang penting jangan disitu. Akhirnya kami nurut aja. Waktu lewat wahana ranger, saya nawarin Isna buat naik, dianya ragu dikit, kalau Mbak Bebeb mah udah geleng-geleng aja, Mas Fiki nganut aja sama Mbak Bebeb. Setelah lihat satu putaran, Isna mutusin buat naek aja. Coba-coba.…

DAT goes to WBL part 3

Hay hay hay! Balik lagi nih sama Kiky Firda yang mau curhat (lagi) tentang DAT goes to WBL! Dan kali ini settingnya udah di WBL. Yeay! Akhirnya sampai juga kan?! Cerita mulai dari antri buat wahana Bioskop 3 Dimensi. Saya sih ngikut aja ya sama yang udah tua, mau ke wahana apa dulu mah nganut, yang penting nggak rugi buat saya. Kami antri sekamir 30 menit, lamaaaaaaaaaaa banget. Maklum aja sih, lagi weekend, tanggal merah lagi, jadi ramenya tak terkira. Panitianya kurang mantep cari waktu sih. Tapi nggak tahu juga kapan waktu yang tepat, soalnya sesama anggota sama-sama sibuk sama urusan masing-masing :D Bioskop 3 dimensi kali itu nampilin film Drakula. Awalnya agak takut sih, makanya waktu udah dapet tempat duduk di dalem bioskop saya terusan megang tangan Isna. Tapi ternyata ketakutan saya itu nggak beralasan. Filmnya gitu-gitu doang, kurang asyik, lebih asyik yang ada di Ancol. Tapi pegangan tangan itu nggak ada ruginya buat Isna. Karna diantara saya sama Isna, yang lebih sering jeri…