Minggu, 19 Januari 2014

Hujan Pagi Itu

Kau tahu kenapa aku selalu membenci hujan di pagi hari?

Alasannya sederhana

Karena ia merusak pagiku!



Aku selalu menyukai pagi.

Aku menyukai kesegaran yang mengalir di tubuhku ketika mandi,

Aku menyukai udara pagi yang membuatku tenang,

Aku menyukai melihat anak-anak berseragam yang bersepeda bersama-sama ke sekolah,

Aku menyukai melihat satu persatu bangku di kelas terisi,

Aku menyukai mereka yang datang tergesa-gesa dan segera menghambur ke kelas untuk mengerjakan PR,

Aku menyukai melihatmu berangkat sekolah dengan santainya menggunakan sepatu hitam-orangemu itu.



Tapi hujan pagi itu merusak semuanya,

Aku kedinginan saat mandi,

Udara pagi yang bercampur hujan membuat perutku mulas,

Hujan membuat pandanganku kabur terhadap sekeliling,

Hujan menghalangi perjalananku ke sekolah untuk berangkat lebih awal,

Hujan membuatku melupakan PR,

Hujan memaksaku belajar dengan pakaian yang basah,

Dan parahnya, Aku tak melihatmu.



Tapi entah kenapa, aku bahagia.

Mungkinkah itu pertanda baik?

Mungkin saja. Eh, memang iya.

Saat pergantian jam dari kimia ke matematika, Aku melihatmu!

Berbicara dengan salah satu temanmu yang satu kelas dengan aku.

Hari itu kelasku tidak ada pelajaran fisika, dan kau meminjam paket fisika

Dan thanks to Sulis and Susi!

Aku membawanya!



Nina : "kikiiii, kikiiii, kikiiii" (dia gila, padahal aku ada tepat di depannya, dan dia teriak dengan parahnya -,-)

Iva : "beb, kae lho beb, kae lho." (Dia bikin aku salting gila -,-)

Nina : (masih teriak-teriak)

Iva : " piye? " (bicara sama feby) "paket fisika beb." (bicara sama aku)

Daku : "lha kae tho." sambil nunjukbuku paket yang ada di depannya.



Dan aku bahagia sekaliiiii.



Jam istirahat membuatku gugup.

Aku takut ketemu kamu.

Aku takut bila tiba-tiba oksigen disekelilingku menghilang.

Aku ingin pergi ketempat dimana aku tak bisa menemukanmu.

Tapi takdir sepertinya memang tak berpihak padaku.

Dan dewi fortuna senang berbaik hati pada keadaan.

Di suatu tempat ramai di depan ruang BK,

firasatku memburuk.

Aku melihatmu!

Aku berusaha menerubus kerumunan dan mencoba untuk tidak mempedulikanmu,

Aku mencoba menulikan telingaku untuk sementara,

tapi teman-temanku berubah menjadi malaikat yang menjengkelkan.

Mereka berhenti, memanggil namaku.

Kau juga! Itu pertama kali aku mendengarmu memanggil namaku.

Bagaimanapun aku tetap harus menoleh kan?

Kau menyodorkan buku paket fisika yang kau pinjam dariku,

"Makasih ya."

Dan demi apapun, kalimat itu akan menjadi kalimat favoritku.




Rizki Firda Morata Martin
@kikyfirda
18 Januari 2014
Catatan kecil di kala hujan

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Little Altair Template by Ipietoon Cute Blog Design