Rabu, 05 Oktober 2011

No Tittle


“saat mata bertemu mata, disaat itulah kurasakan suatu getaran yang tak pernah kurasa sebelumnya, sebuah getaran halus yang menyesakkan dada, begitu lembut dan menusuk!”
*****
Sivia’s Eyes
Kringg Kriingg ...
Kulangkahkan kaki keluar rumah, kuhirup udara yang segar dipagi yang cerah itu. Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah MOS satu minggu penuh kemarin. Aku benar-benar lega, tak harus bertemu dengan kakak-kakak kelas yang sok galak itu lagi. Takkan ada suara bentakan-bentakan lagi. Dan tak akan kutemui lagi wajah-wajah yang juga sok menyeramkan. Aku benar-benar lega. Kupandangi wajah teman-temanku satu persatu, mereka juga tampak bahagia, mengawali pagi dengan senyuman dan penuh semangat.
“Ayo guys, kita berangkaaat ...” aku bersorak penuh semangat.
“C’moon” mulai kukayuh sepedaku mengejar teman-temanku yang sudah terlebih dahulu dan meninggalkanku. Kami memang selalu bersepeda ketika berangkat sekolah, membantu pemerintah dalam program “Go Green” yang sepertinya masih belum berjalan lancar.
Oh ya, perkenalkan namaku Sivia Azizah D., kalian bisa memanggilku Via. D adalah nama belakang yang dimiliki oleh semua anggota keluargaku. Yapz. Damanik. Jika aku menggunakan nama itu, semua orang disekolah akan tahu kalau aku adalah anak dari pemilik yayasan tersebut dan mungkin mereka akan mendekatiku dan memanfaatkanku. Aku lebih suka menjadi anak biasa, maka kusembunyikan nama itu, maka cukup Sivia Azizah. Tidak ada yang tahu bahwa aku anak dari keluarga Damanik, kecuali sahabat-sahabat terdekatku. Aku mempunyai kakak, bernama Gabriel Stevent Damanik, dia merupakan most wanted di Global International High School, dan merupakan incaran wanita-wanita genit di SMA tersebut. Walaupun begitu, tak pernah ada yang tahu aku dan kak Iel adalah saudara kandung, kecuali sahabat-sahabatku, karena yaa, aku memang tak ingin mereka tahu, bahkan akupun tak mau tinggal bersama kakak dan kedua orang tuaku, dengan alasan aku ingin hidup mandiri, dan Ayahpun sangat mendukungku. Walaupun demkian, Ayah selalu memberiku uang saku tiap bulannya.
Tadi itu sahabat-sahabatku, gadis manis yang memakai bandana warna pink itu Ashilla Zahrantiara atau Shilla, yang rambutnya diikat itu Ify alias Alyssa Saufika Umari dan yang paling tomboy namanya Agni Tri Nubuwati atau Agni. Mereka semua anak orang yang cukup berada, ayah Shilla adalah dokter gigi disalah satu rumah sakit swasta terkenal diBanten sini. Ayah Ify juga seorang pemilih pabrik pakaian terbesar di Banten ini. agni? Ayahnya adalah seorang pelatih tim nasional basket kita, sedangkan ibunya dosen di Universitas Indonesia. Walaupun begitu, kami tak pernah mau menunjukkan identitas kami yang sebenarnya, kami sepakat untuk selalu rendah diri, dan kami memilih untuk naik sepeda ke sekolah sebagai langkah pertama.
*****
“aku tak mengerti apa artinya ini, semua terjadi begitu saja, tak diharapkan tapi begitu cepat dan tepat sasaran.”
*****
Masih begitu sepi saat kami sampai disekolah. Kami berpisah ditempat parkir dan menuju kelas masing-masing. Beruntung aku dan Shilla bisa satu kelas.
“eh Vi, lihat deh.” Shilla menyenggol lenganku, kemudian mengarahkan telunjuk lentiknya ke sebuah objek ciptaan Tuhan yang bisa membuat semua orang terpana. Aku mengiti arah telunjuknya, dan kutemukan sesosok anak manusia yang sedang asyik membaca buku yang sangat tebal. Sesosok laki-laki manis berkacamata itu sedang duduk dibawah pohon besar yang rindang ditemani dengan semilir angin yang merdu. Sejenak dia mengalihkan muka dari bukunya dan mendapatiku sedang memperhatikannya, lalu kembali fokus ke bukunya. Saat itulah, desiran halus kurasakan disekujur tubuhku dan sesaat aku terpana menikmati indah ciptaan Tuhan itu, sebelum suara Shilla menyadarkanku.
“ganteng banget yah Vi, kamu mau nggak nyomblangin gue sama dia? mau ya? Mau ya? Pliiis, Via baik deh ya.” Sedetik aku terdiam mendengar kalimat Shilla, mencoba menenangkan suasana hatiku yang tak menentu. Ditambah raut muka Shilla yang begitu serius dan memohon. Jadi Shilla juga menyukainya? Apa yang harus aku lakukan Tuhan? Semua ini terjadi begitu cepat.
“kamu suka sama dia Shill? Yakin? Secepat itu?” aku mencoba ‘tuk menghentikan sejenak langkahnya, walaupun aku tahu, ada kesungguhan dalam pancaran bola matanya.
“aku yakin banget Vi, aku mulai tertarik sama dia sejak pertama aku ketemu dia waktu MOS kemarin. kamu mau ya? Pliiiis.” Dia menggenggam tanganku dan menempelkannya tepat didadanya. Kurasakan detak jantungnya yang begitu cepat, tangannya pun terasa dingin, semakin terpancar aura keseriusannya. Aku mengalah, kuhembuskan nafas berat. Lalu tersenyum pahit.
“kamu itu ada-ada aja Shill, belum lama kita disini, udah kena cinlok. Tapi, aku kan juga nggak kenal dia Shill, gimana caranya aku nyomblangin kammu? Kayaknya dia juga anak kelas XI. Ada-ada aja sih kamu.” Aku menggeleng-gelengkan kepala, sekali lagi mencoba menahan rasa perih dihatiku. Cinta pada pandangan pertamaku, gagal.
“alah, di usahain dong Vi, kamu kan pinter kalau udah jadi mak comblang. Kemarin si Ify sama kak Rio juga yang nyombaling kamu. Masak Ify dicomblangin aku nggak?” wajah Shilla terlihat sangat lucu ketika dia dalam posisi seperti itu, manyun. Aku tertawa pedih melihatnya. Kisah ini baru saja dimulai, tapi kenapa bisa langsung kacau? aku tak dapat berbuat apa-apa, mungkin ini memanglah takdir yang dipersiapkan Tuhan untukku. Dan mungkin ini artinya, aku memang belum diperbolehkan mencintai seseorang untuk saat ini.
“Aku coba aja dulu deh ya Shill, hasilnya? Aku nggak janji bisa semulus Ify sama kak Rio.” Akhirnya itu keputusanku. Walaupun begitu perih, akan kucoba, setidaknya aku bisa sedikit lebih dekat dengan sosok malaikat berbaju manusia itu.
“thank you Vi, you’re my best friend. I love you.” Shilla memelukku. Pelukan persahabatan. Begitu erat dan menyesakkan tentunya.
“always Shill. Tapi lepasin dong, nggak bisa nafas nih, kamu mau cowok itu tahu? Ntar kita dikira ada apa-apa lagi.”
“hehe, maaf Vi, saking senengnya. Hehe” shilla melepaskan pelukannya dan menarik tanganku. “ayoo kita kekelas.” Aku hanya bisa pasrah mengikutinya.
*****
“semua terjadi diluar kendaliku, jatuh cinta dan patah hati diwaktu yang sama.”
*****
Hari-hari kini kulalui dengan mengorek informasi tentang malaikat berbaju manusia itu, sangat sulit ‘tuk dapatkan informasi tentang malaikatku itu. Sudah 3 hari aku mencari, dan yang kudapatkan hanya kelasnya saja, kelas XI IPA 1. Pernah sekali aku bertanya pada teman sekelasnya, seorang perempuan yang kuketahui namanya Zahra, karena dia juga termasuk anak OSIS yang dulu pernah mengajarku saat MOS lalu. Tapi entah ada sebab apa dia memarahiku, diapun bilang jangan pernah mengganggu sang malaikatku lagi. Menurut analisisku, dia juga merupakan pengagum kakak Malaikatku tadi. Menyebalkan.
Saat ini, matahari sudah mulai condong kebarat. Aku berjalan sambil mengusap dahiku menuju tempat parkir. Hari ini aku pulang terlambat karena mengikuti ekstra jurnalistik yang kupilih tempo hari. Aku benar-benar lelah saat ini. saat sampai ditaman sekolah, kulirik jam tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 16.46, sedangkan tempat parkir masih jauh diujung sana, sesaat aku menyalahkan ayah, kenapa harus membangun sekolah yang begitu luas seperti ini. Aku menghembuskan nafas berat, aku belum makan dari tadi siang, dan kurasakan badanku mulai melemas, jangan sekarang, kumohon.
Aku hampir terjatuh saat kurasakan sebuah tangan kokoh memegangiku. Aku terkejut, kudonggakkan wajahku dan melihat sang penolongku tadi. Tiba-tiba jantung ini berdegup kencang ketika kuketahui siapa malaikat penolongku itu. Kurasakan aliran darahku yang mengalir begitu deras.
“kamu nggak papa dek?” suaranya yang berat tapi lembut itu menyapaku. Tampak wajah khawatir yang terukir disana, tapi tak mengurangi sedikitpun kesan tampan dalam dirinya. Aku mencoba berdiri tegak, dia masih memegangiku dan membantuku untuk tegak.
“nggak papa kok kak, makasih ya.” Aku tersenyum simpul. Kuharap senyumku adalah senyuman termanis yang pernah aku keluarkan selama ini.
“kak ..” aku melirik tangannya yang masih setia memegangi tubuhku yang sudah cukup tegak.
“ahh, maaf ya dek.” dia melepaskan tanganya lalu menggaruk-garuk belakang lehernya yang sepertinya tak terasa gatal. Mungkin salting.
“iya kak, nggak papa kok. By the way, kakak kok masih disini?” aku mencoba tersenyum, menahan rasa sakit yang menyerang perutku, benar-benar disaat yang tak tepat. Sepertinya suaraku pun sudah mulai bergetar.
“tadi ada rapat OSIS dek. Kamu juga kenapa jam segini masih disini? Ekstra juga?” aku hanya mampu mengangguk, mungkin sebentar lagi aku akan pingsan. “jurnalistik ya?” tebaknya tepat, dan lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.
Badanku terasa dingin, kupegangi perutku yang sudah terasa sangat sakit, seperti ditusuk-tusuk jarum, perih. Kurasakan badanku limbung.
“kamu kenapa dek?” desiran halus itu terasa lagi, saat ia kembali menyentuh tubuhku, membantuku untuk tetap tegak. Aku hanya mampu tersenyum dan menggeleng. Kucoba ‘tuk kembali tegakkan tubuh, berkali-kali aku coba menegakkan tubuhku, tapi aku tak bisa.
“udah dek, nggak usah dipaksain dulu, kita duduk disitu dulu ya?!” aku hanya mengangguk. Sang malaikatku memapahku berjalan menuju kursi didekat pohon besar, tempat yang kuingat pertama kali aku melihatnya sedang membaca buku. Aku duduk dikursi itu, kursi yang memang disediakan untuk para siswa yang sedang istirahat dan membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikiran.
“kamu kenapa tho dek? Perutmu sakit? Kenapa? Mag? Belum makan ya? Ini tadi kakak punya roti.” Persis bunda, dari sikapnya yang terkesan dingin, sepertinya dia orang yang perhatian. Sungguh beruntung siapapun yang bisa memiliki hatinya. Dia memberikanku sekotak brownis yang sepertinya benar-benar lezat, ini makanan favoritku. Aku memandangnya ragu, tapi dia hanya tersenyum dan memberikan kotak itu kepadaku. Aku membukanya dan mengambil salah satu potongan brownis itu. Rasanya benar-benar lezat, cacing-cacing diperutku kini mulai jinak kembali.
“enyak kak, makacih ya.” Mulutku masih penuh makanan ketika aku mengucapkan kalimat itu.
“iya, tapi dihabisin dulu dek, nanti keselek lho. Hehe. Oh iya dek, kita belum kenalan, nama kamu siapa?” ah, senyumnya Tuhan, benar-benar meneduhkan jiwa. Sungguh berutung Shilla jika aku berhasil menyatukan dua insan itu.
“aku Via kak, Sivia Azizah. Kalau kakak?”
“Alvin dek, Alvin Jonathan Sindunata.” Aku hanya mengangguk dan meneruskan makanku. “oh ya dek, kamu nanti pulang naik apa?”
“sepeda kak.” Jawabku singkat tanpa memandang wajahnya. Aku takut, jika aku makin larut dalam perasaan ini, aku akan makin sakit.
“nanti tak anter aja ya dek? Takut kamu nggak kuat nanti, malah pingsan dijalan, kan bahaya, apalagi kamu cewek, sendirian lagi.” apa? Serius? Kak Alvin mau nganterin aku? Yippiiiiii ..
“nggak papa nih kak? Aku nggak bakal ngrepotin kakak? Nanti kalau pacar kakak tahu, aku bisa dikira ngrebut pacar orang lagi.” Elakku, walaupun kata hati berlawanan dengan apa yang diucapkan mulut.
“haha, kakak masih single kok dek. Nggak papa lagi,”
“hah? Masak cowok seganteng kakak masih single?” uppps,, keceplosan. Aku lalu menutup mulutku, malu.
“haha, belum ada yang cocok dek.” Dia mengacak-acak rambutku. Kita mengobrol seolah-olah sudah saling mengenal sejak lama, bahkan mungkin jika ada orang lewat, mungkin ia akan mengira kami sedang berpacaran. Masih berseragam sekolah, berduaan, dibawah pohon rindang, ngobrol akrab, ahh, andai saja.
“eh kak, tadi kok kakak bisa nolongin aku gimana? Untung banget ada kakak, kalau kakak nggak ada, aku nggak bakal tahu gimana nasib aku nantinya. Oh ya kak, maaf brownisnya tak abisin. Hehe” kutunjukkan deretan gigi putihku, benar-benar tak tahu malu.
“takdir mungkin dek.” Eh, takdir? Apa maksudnya? “tadi kakak lihat, kamu keluar dari ruang jurnalistik pucet banget, kakak mau hampirin kamu, tapi eh kamu malah mau jatuh, ya udah kakak bantu aja kamu. Kalau dilihat-lihat, kayaknya muka kamu mirip seseorang deh dek?” pantas saja dia tahu aku ikut ekstra jurnalistik.
“kakak pasti pernah lihat Selena Gomez deh, aku kan kembarannya SelGom. :p” kujulurkan lidahku. Aku bisa menebak apa yang akan dia ucapkan selajutnya.
“dasar, tapi beneran deh, muka kamu tu mirip sama Iel.” Tepat sekali, pasti ada hubungannya dengan kak Iel, wajar sajalah, aku dan kak Iel hanya berbeda 1 tahun, saudara kandung, sudah pasti mirip, apalagi mataku ini persis dengan mata indah milik kak Iel.
“Iel siapa kak? Aku malah nggak tahu.” Maaf kakak, aku terpaksa bohong sama kakak.
“kamu nggak kenal Iel? Ya udahlah, lupain aja. Oh ya, nanti aku anter lho ya?!” aku hanya mengangguk. Lalu semuanya hening. Kami berada dalam pikiran masing-masing. Menyaksikan daun-daun yang berguguran jatuh diterpa angin. Kami terdiam, ditemani angin sore yang tenang, dan daun-daun yang berterbangan. Sore yang indah, dan romantis. Sayang, aku tak akan bisa menikmati saat-saat seperti ini lagi.
*****

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Little Altair Template by Ipietoon Cute Blog Design